Ringkasan KhotbahRev. Peter Kumar di R.O.C.K. Center, 13 Juli 2008
Daniel 3:28,29,30;
Ayat 28, “Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.”
Ayat 29, “Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
Ayat 30, “Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.”
Pembacaan ayat di atas adalah merupakan kesaksian seorang raja yang sebenarnya tidak mempercayai Tuhan, bukan kesaksian dari seorang percaya.
Ia menyaksikan bahwa tidak ada allah yang dapat menyelamatkan seperti Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
Setelah Nebukadnezar melihat bahwa Tuhan menyelamatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari dapur api, dia tahu bahwa Tuhan menyertai mereka.
Karena itulah Nebukadnezar akhirnya mempromosikan mereka bertiga dan memberikan kedudukan tinggi.
Sebelum semua itu terjadi, sebenarnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego sudah diberi kedudukan atas rekomendasi dari Daniel (Daniel 2:49). Tapi, raja yang sama juga memasukkan mereka ke dapur api. Minat manusia terhadap kita bisa berubah, tapi Tuhan punya kasih yang jauh lebih besar, bagi kita. Banyak dari hidup kita masih tergantung dan ditentukan oleh orang lain, bukan Tuhan. Ketahuilah bahwa Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah bagi hidup kita.
Daud pada awalnya hanya diberi tugas oleh ayahnya untuk menggembalakan kambing domba, tapi Tuhan mempromosikan dia menjadi raja (2 Samuel 7:8-9).
Tuhan tidak menghendaki Daud untuk selamanya menjadi gembala seperti keinginan ayahnya.
Banyak dari kita jalan hidup kita masih ditentukan oleh kehendak diri sendiri atau rencana orang lain, bukan karena kehendak dan rencana Allah.
Kita ingin menggantungkan hidup pada orang lain dan merasa senang bila selalu dibantu orang lain. Tapi Tuhan tidak menghendaki itu.
Tuhan mau kita hidup dalam rencana-Nya dan rencana-Nya bagi kita adalah yang terbaik. Saat ini mungkin kita disukai manusia, dan kita mempercayakan hidup kita pada mereka. Tapi Ingatlah bahwa kesukaan manusia pada kita dapat berubah, tapi rencana dan kasih Tuhan tidak akan berubah.
Tuhan juga mengijinkan kita untuk masuk dalam ‘dapur api’. Dan dalam dapur api itu Dia akan menyatakan pernyertaan-Nya.
Seperti Yusuf yang pada awalnya dijual sebagai budak oleh saudaranya, tapi Tuhan menyertai dia di rumah Potifar dan Tuhan mempromosikan Yusuf (Kej. 39:2-4). Walau kemudian akhirnya Potifar memasukkan Yusuf dalam penjara, Tuhan tetap menyertai Yusuf dalam penjara. Tuhan menunggu Yusuf masuk penjara dan memberi Yusuf promosi (Kejadian 39:21-23).
Di manapun Yusuf berada, Tuhan selalu meyertai dan mempromosikan dia.
Sering kita bertanya mengapa Tuhan mengijinkan kita masuk dalam masa sulit. Ingatlah bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita dan mempersiapkan kita untuk promosi. Dalam masa sukar, orang akan melihat bahwa Tuhan menyertai kita dan Dia akan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi lagi. Dalam Kejadian 41:38-40, dikatakan bahwa akhirnya Yusuf dikeluarkan dari penjara dan dijadikan kuasa atas seluruh Mesir.
Jika kita tahu kehendak Tuhan dalam hidup kita dan mengijinkan rencana-Nya terjadi maka Dia akan menyertai kita dan akan mempromosikan ktia ke tempat lebih tinggi.
Kita harus memiliki pewahyuan bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita jika kita mau hidup dalam rencana-Nya.
Tuhan menghendaki kita selalu berhasil dan tidak gagal, menjadi kepala dan bukan ekor.
Ingatlah, setiap kali kita menghadapi kesukaran dan kesulitan, Tuhan akan selalu menyertai kita dan membawa kita ke tempat lebih tinggi.
Mazmur 31:7-8;
Ayat 8, ”Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku,
Ayat 9, “Dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.”
Rabu, 23 Juli 2008
Penyertaan Dan Promosi Dari Tuhan
Fatherhood
Ringkasan Khotbah Pdt. Ir. Timotius Arifin T. di R.O.C.K. Center, 06 Juli 2008
II Raja-Raja 13:14-25;
Ayat 14, “Ketika Elisa menderita sakit yang menyebabkan kematiannya, datanglah Yoas, raja Israel, kepadanya dan menangis oleh karena dia, katanya: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!”
Ayat 15, “Berkatalah Elisa kepadanya: "Ambillah busur dan anak-anak panah!" Lalu diambillah busur dan anak-anak panah.”
Ayat 16, “Berkatalah ia kepada raja Israel: "Tariklah busurmu!" Lalu ia menarik busurnya, tetapi Elisa menaruh tangannya di atas tangan raja,”
Ayat 17, “serta berkata: "Bukalah jendela yang di sebelah timur!" Dan ketika dibukanya, berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."
Ayat 18, “Sesudah itu berkatalah ia: "Ambillah anak-anak panah itu!" Lalu diambilnya. Setelah diambilnya, berkatalah Elisa kepada raja Israel: "Pukulkanlah itu ke tanah!" Lalu dipukulkannya tiga kali, kemudian ia berhenti.”
Ayat 19, “Tetapi gusarlah abdi Allah itu kepadanya serta berkata: "Seharusnya engkau memukul lima atau enam kali! Dengan berbuat demikian engkau akan memukul Aram sampai habis lenyap. Tetapi sekarang, hanya tiga kali saja engkau akan memukul Aram."
Pada waktu itu Kerajaan Israel Utara dalam keadaan yang sangat parah, sebab ayah dari raja Yoahas yaitu Yehu adalah orang yang sangat jahat di mata Tuhan, dan dinasti Yehu dilanjutkan putranya ini. II Raja 13:7; “Sebab tidak ada laskar ditinggalkan pada Yoahas, selain dari lima puluh orang berkuda dan sepuluh kereta dan sepuluh ribu orang berjalan kaki, sebab raja Aram telah membinasakan mereka dan meniupkan mereka seperti abu pengirikan.”
Kekuatan mereka sangat kecil dan Tuhan membangkitkan bagi mereka seorang penolong (Yasha). Hidup adalah peperangan, dan peperangan kita bukanlah melawan manusia, tapi melawan penguasa-penguasa di udara. Banyak area dalam hidup kita yang direbut oleh iblis. Mungkin itu adalah ekonomi, kesehatan, rumah tangga kita, sama seperti yang dialami Israel pada waktu itu. Raja Yoas datang pada nabi Elisa sebagai pembebas. Ketika itu Elisa dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematiannya, sebab ia sudah tua secara fisik ia lemah tetapi rohnya menyala-nyala.
Seperti Yoas datang pada Elisa, demikianlah kita mengerti bahwa yang dibutuhkan dalam hidup kita adalah seorang bapa, karena seorang bapa dapat memberikan beberapa hal.
Ada 5 hal yang diberikan oleh seorang bapa:
1. Identity (Order and Relationship).
Mazmur 27; seorang putra adalah seperti anak panah ditangan pahlawan, tujuan setiap kita adalah melahirkan putra-putra, dan memberikan tujuan hidup supaya mempermuliakan nama Tuhan dan melebarkan kerajaan Allah.
2. Purpose (Brings salvation to the lost).
3. Vision (Allows us to see far beyond).
4. Inheritance (Double portion).
5. Blessing in ministry.
Maleakhi 4:5-6; Ayat 6, “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” (dalam bahasa Inggris ditulis with ‘a curse’ /dengan kutuk)
Penyebab dari kutuk adalah karena tidak adanya bapa yang berfungsi sebagai bapa, jawaban dari kutuk ini adalah ‘fatherhood.’ Tugas gereja adalah menjalankan fungsinya sebagai bapa-bapa rohani, karena gereja bukan institusi, gereja adalah keluarga.
Yoas diperintahkan untuk mengarahkan anak panahnya dan Elisa menaruh tangannya di atas tangan raja Israel, inilah yang disebut ‘encourage’ seorang bapa, sebab seorang bapa memberi dorongan untuk kesuksesan anaknya. Dengan mengarahkan anak panahnya ke sebelah timur (ke arah jurusan musuh), berarti ia menantang untuk sebuah peperangan.
Jangan kompromi dengan kuasa kegelapan, tetapi tantang perang mereka. Ketahuilah bahwa mereka sudah dikalahkan 2000 tahun lalu.
Lalu Elisa berkata: “Inilah anak panah kemenangan!”. Anak panah adalah putra. Jika kita tidak mengisi tabung dengan putra-putra, maka yang terjadi adalah frustrasi. Mengapa Elisa gusar, karena ia tidak mendapatkan putra, sebab Gehazi orang terdekatnya telah gagal dan berakhir sebagai orang kusta, karena menjadi tamak.
Setiap dari kita harus bernubuat untuk anak-anak kita dengan perkataan yang baik untuk masa depan mereka. Mengapa orang Yahudi sukses? Karena mau memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya dan bernubuat bagi mereka.
Elisa juga mempunyai urapan militer, sebab ia tahu ketika ia dikepung tentara Aram, Elisa tidak membalas dengan memusnahkan mereka tetapi justru memberi mereka makan.
Kita juga ada dalam peperangan, tetapi jangan lawan dengan kekuatan kita. Tanyalah pada Tuhan apa yang harus kita lakukan, sebab musuh kita bukanlah manusia tetapi roh-roh jahat di udara. Elisa memerintahkan raja Isarel untuk memukul busur itu ke tanah, tetapi ia hanya memukul tiga kali saja. Padahal seharusnya ia memukul 5 atau 6 kali. Apa yang membuat kita bisa berhasil dalam segala aspek kehidupan? Semangat! Karena orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya.
Semangat atau antusiasme sangat penting dan menentukan bagaimana hidup kita. Jika kita ingin dipakai Tuhan dan kutuk dilepaskan dalam hidup kita? Harus ada pemulihan hubungan bapa dan putra-putranya. Matius 3:17, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Perkataan dari sorga adalah kunci hidup berkemenangan terhadap siasat iblis yang menghancurkan hubungan kita dengan bapa. Yang ditinggalkan Elia pada Elisa adalah jubah yang terbawa sampai matinya Elisa, tetapi kuasa kebangkitan dari roh Elisa tetap dinyatakan sekalipun di dalam kubur. Itulah yang akan dikerjakan Tuhan lewat hidup kita, sebab Roh yang membangkitkan Kristus dari orang mati ada dalam setiap kita. Amin. (LD)
Sabtu, 21 Juni 2008
Bertemu Tuhan Di Tengah Kesukaran
Ringkasan khotbah Pdt. Eluzai Frengky Utana di R.O.C.K. Center, 15 Juni 2008
II Samuel 12:1-10; Apa yang dilakukan Saul kepada Daud membuat ia mengalami kesukaran atau tekanan, tetapi Daud tidak membalas apa yang dilakukan Saul. Bahkan Daud tidak sekalipun menyentuh pribadi Saul, sebab Daud tetap dalam hadirat Tuhan. Tetapi anehnya, ketika Daud menerima promosi ia melakukan apa yang juga dilakukan Saul, Daud mengambil isteri Uria dan membunuh Uria dalam pertempuran dengan cara yang licik. Pada akhirnya anak dari perzinahannya harus mati, sekalipun Daud telah berdoa dan berpuasa.
Jika kita berbicara tentang bertemu Tuhan di tengah kesukaran, kita bisa melihat bagaimana banyak orang menjadi kuat imannya ketika tidak memiliki apa-apa dan jatuh ketika hidupnya diberkati.
Mari kita belajar untuk bertemu Tuhan di tengah kesukaran? Yang harus kita pahami adalah jangan kita hanya menjadi “Kristen kejadian atau peristiwa.” Kita mau mengikut Yesus karena kita diberkati, disembuhkan dan karena kita mengalami sukacita atas sesuatu yang kita terima. Yesus memerintahkan kita untuk menjadi saksi-Nya, pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. itu berbicara tentang proses yang harus kita lalui, jadilah orang Kristen yang hidup dalam dimensi kerajaan Allah dan menang dalam setiap proses yang harus dilewati.
Daud tidak menjadi putus asa dan lari dari panggilannya, ketika kesukaran demi kesukaran datang dalam hidupnya karena Tuhan selalu menyediakan pesta yang besar bagi orang-orang yang mau menjalani setiap proses bersama Tuhan.
Hari-hari ini mungkin kesukaran dapat berupa dampak kenaikan BBM, sehingga mem-pengaruhi dalam berbagai sektor kehidupan dan kita tidak dapat mengendalikan semua keadaan itu. Tetapi jika kita bersama Tuhan, maka BBM bukan bencana tetapi adalah “Berkat Besar Menanti” mengapa demikian? Karena pada mulanya ketika Tuhan menciptakan kita, Dia memberi otoritas supaya kita berkuasa atas seluruh ciptaan Tuhan di bumi ini. Jadi apa yang harus kita takutkan? Apa yang menjadi bagian untuk kita kerjakan, mari kita kerjakan, bagian Tuhan adalah melakukan mujizat.
Mazmur 118:24; “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
Yohanes 14:27; “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Ketika Daud mengetahui bahwa anaknya telah mati, ia tidak menyesali dan marah pada Tuhan. Tetapi dalam kesusahannya itu ia bertemu Tuhan, maka setelah itu Daud berhenti menangisi anak itu, lalu ia berurap dan makan.
Mari kita belajar beberapa hal untuk mengalami bertemu Tuhan dalam masa kesukaran.
1. Percaya Tuhan secara radikal dan bukan karena ikut-ikutan.
Dalam dunia ini kita mengenal berbagai jenis kasih; ada orang yang tidak memiliki kasih, ada orang yang memiliki kasih yang berkorban, dan ada kasih yang lebih dari itu yaitu kasih yang radikal artinya kasih yang dinyatakan dalam perbuatan sesuai apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan.
Hari ini setiap kita hanya tinggal memilih apakah kita mau mengikuti apa yang dikatakan Firman atau tidak, sebab pilihan kita akan menentukkan kebahagiaan atau sebaliknya.
Yesaya 61:7; “Sebagai ganti bahwa kamu mendapat malu dua kali lipat, dan sebagai ganti noda dan ludah yang menjadi bagianmu, kamu akan mendapat warisan dua kali lipat di negerimu dan sukacita abadi akan menjadi kepunyaanmu.”
Jadi jika kita hidup dalam kebenaran apapun yang diperbuat orang lain pada kita jangan takut! jika kita tidak membalas maka, itulah saatnya Tuhan memberikan kita berkat dua kali ganda.
Yohanes 16:33; “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Di dalam Tuhan kita telah mengalahkan dunia (dunia pendidikan, bisnis, media dan lain-lain Tuhan memberi kita kuasa untuk menaklukkannya.) Ketika kita percaya Tuhan secara radikal, maka inilah yang Tuhan janjikan Yesaya 61:3; “untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka "pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN" untuk memperlihatkan keagungan-Nya.”
Perhiasan berbicara tentang sesuatu yang lebih baik, hal-hal yang merupakan abu dalam hidup kita di masa lalu (kebencian, tidak mengampuni) harus kita tinggalkan supaya digantikan dengan perhiasan Tuhan sebab kita harus menaruhkan hidup kita pada kasih setia Tuhan yang tidak pernah berkesudahan dan rahmat-Nya yang selalu baru setiap hari.
2. Jangan jemu-jemu berbuat baik.
II Samuel 12:24, Galatia 6:9-10; apapun yang bisa kita lakukan bagi kebaikan orang ketika kita sendiri sedang mengalami persoalan sebenarnya adalah sebuah tindakan yang sedang kita kerjakan untuk kebaikan kita sendiri. (Yak. 4:17)
3. Memiliki gaya hidup bersyukur dan menikmatinya.
Kolose 3:17, Markus 8:6; Tuhan adalah pengendali dari segala sesuatu dalam hidup kita termasuk hal-hal yang kita anggap sebagai kekurangan kita. Bersyukur adalah sikap hati seseorang yang menempatkan dirinya dalam hadirat Tuhan, tetapi orang yang bersungut-sungut sudah menempatkan dirinya di luar hadirat Tuhan.
Mungkin hari ini ada yang hilang dari hidup kita, tetapi jika kita belajar untuk bersyukur, maka ada yang jauh lebih besar yang akan kita terima. Orang yang memiliki gaya hidup bersyukur tidak melihat apa yang tidak ada padanya tetapi melihat apa yang masih ada padanya. Ada 2 hal yang harus kita lupakan dalam hidup ini; yang pertama; perbuatan baik kita kepada orang lain, dan yang kedua; kesalahan orang lain kepada kita.
Jangan pernah takut akan apapun yang akan terjadi di depan kita sebab ada Tuhan Yesus yang hebat yang melebihi segala persoalan kita, yang akan membuat saudara menjadi orang-orang yang menang.
Amin. (LD)
Kamis, 12 Juni 2008
Kingdom Of Grace
Ringkasan khotbah Pdt. Timotius Arifin T. di R.O.C.K. Center, 08 Juni 2008
Lukas 15; menulis tentang 3 perumpamaan, yang merupakan kebenaran yang ingin Tuhan sampaikan pada kita:
1. Perumpamaan seorang gembala yang mempunyai seratus ekor domba dan satu domba hilang. Gembala itu pergi meninggalkan yang sembilan puluh sembilan untuk mencari seekor yang hilang. Gembala itu menggendong domba dan membuat pesta, demikianlah yang dilakukan Yesus ketika ada satu orang diantara kita yang bertobat dari dosa.
2. Perumpamaan seorang perempuan yang mencari dirham yang hilang di dalam rumah, memang kadang-kadang yang hilang ada di dalam rumah.
3. Perumpamaan tentang anak yang hilang.
Tuhan Yesus sering memberikan pelajaran lewat cerita atau perumpamaan, untuk menyampaikan suatu pesan. Di bawah ini kita akan belajar tentang apakah anugerah itu.
Lukas 15:1-3;
Ayat 1, “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.”
Ayat 2, “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
Ayat 3, “Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:”
Mereka di sini adalah orang-orang Farisi yang bersungut-sungut, tetapi Yesus datang memberitakan kabar baik. Bahkan pemungut cukai yang dianggap sebagai orang yang paling berdosapun, mereka mendengarkan Yesus karena mau bertobat sehingga Yesus telah menjadi magnet bagi mereka.
Cerita ini adalah cerita tentang kehidupan kita. Dan selama ini kita melihat, bahwa yang berdosa adalah anak bungsu itu. Anak yang sulung digambarkan sebagai anak yang baik, hanya kurang berterima kasih pada ayahnya. Bapa itu digambarkan sebagai Allah dan bukan manusia biasa, karena ia sangat baik. Tetapi Firman Tuhan berkata, “Hendaklah engkau sempurna sama seperti Bapa yang sempurna di sorga” tujuan kita adalah menjadi sama seperti Kristus.
Jadi bapa bukan saja gambaran Tuhan, tetapi gambaran kita yang mengikut Kristus. Lukas 19:10; “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
Cerita ini menggambarkan sifat Tuhan dan kerajaan-Nya, sebab karakteristik sebuah kerajaan tergantung daripada karakteristik rajanya. Kerajaan Yesus adalah kerajaan anugerah, yang memberi pada kita kesempatan kedua pada setiap kegagalan kita.
Ada 2 golongan orang berdosa:
Yang terang-terangan dan menyembunyikan dosanya. Anak sulung ini sebenarnya orang yang munafik/Kristen topeng.
Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana Dia menerima orang-orang berdosa dengan tidak menghakimi orang itu. Itulah yang seharusnya kita lakukan terhadap orang-orang berdosa.
Anak bungsu itu meminta harta ayahnya (Bios/penghidupan) pada ayahnya, dalam perjanjian lama orang seperti itu akan dihukum mati. Tetapi bapanya yang penuh kasih itu mengampuni anaknya dan bukan menghukumnya.
Ayahnya memakai bahasa kasih, anugerah (Love, Grace, Mercy). Inilah bahasa Taman Eden, kalau saudara mau alami surga turun ke bumi rubahlah perkataan kita.
Perkataan Prodigal/Asotos artinya dihabiskan dengan cara nafsu yang kuat, kemudian datanglah kelaparan di sana sampai ia harus makan ampas babi (No one gave him anything).
Pada saat itulah ia baru sadar bahwa bapaknya adalah bapak yang baik. Di sini yang Yesus ajarkan pada kita adalah tidak mementingkan diri sendiri dan berani hidup bagi orang lain, maka Tuhan akan membuat hidup kita berlipat ganda/produktif.
Dalam masyarakat ada beberapa tingkatan orang:
1. Master/Tuan dengan putra-putranya.
2. Servant/Diakoneo/Pelayan/Hamba
3. Doulos/Budak; milik dari seseorang
4. Buruh harian/Mistios; inilah yang diminta oleh anak bungsu itu ketika ia datang kepada bapanya setelah ia menghabiskan harta ayahnya.
Semua agama berbicara tentang kelayakan, tetapi kerajaan sorga dimulai dengan ketidaklayakan, kita melihat bagaimana bapa itu digerakkan oleh belas kasihan dengan berlari menyambut dia memeluk dan menciumi dia.
Sekalipun tindakan itu bagi banyak orang tidak pantas untuk dilakukan, tindakan bapanya sebenarnya sedang melindungi anaknya dari hujatan dan hukuman orang yang biasanya dilakukan pada waktu itu.
Hal yang sama juga dilakukan Yesus bagi saudara dan saya ketika Dia harus disalibkan di luar kota Yerusalem.
Kemudian bapanya memberinya jubah yang terbaik (first ranking garment) mengenakan cincin pada jarinya, memberinya sepatu (sonship) dan membuatkan pesta baginya menyembelih lembu tambun yang mahal, tanpa apapun yang dilakukan sang anak.
Yesus memberi kita anugerah seperti itu dan mengangkat kita pada level tertinggi, yakni menjadi anak-anaknya.
Cincin yang adalah “The ring of authorithy” sehingga anak itu menjadi pemegang kuasa dari bapaknya. Dia bukan lagi sebagai gembel, tetapi menjadi seorang putra.
Anak sulung itu marah karena memang dia tidak punya hubungan yang baik dan berbicara kasar dengan ayahnya. (ay. 28-30), lalu ayahnya mengajak berbicara dengannya dengan suara yang lemah lembut (ay 31-32). Inilah gambaran bagaimana Tuhan telah membuang dosa dan kesalahan kita ke tubir laut, seperti jauhnya timur dari barat.
Hari ini kita menyadari bahwa Tuhan sangat baik pada kita, Dia memberikan kita anugerah yang luar biasa sekalipun kita seperti anak bungsu dan anak sulung itu. Tuhan juga rindu supaya kita juga menjadi seperti bapa itu kepada sesama kita.
Amin. (LD)













